Minggu, 08 Maret 2009

concert report "ANGELS & AIRWAVES" from jakartaconcerts.com

Angels & Airwaves


Tidak salah Java Musikindo memilih Angels & Airwaves untuk didatangkan ke Indonesia, terbukti Tennis Indoor Senayan dipadati sekitar 5 ribu penonton yang hadir untuk menyaksikan konser yang bertajuk L.A. Lights Concert Angels & Airwaves pada Selasa, 9 Desember 2008 kemarin.

Angels & Airwaves terdiri dari Tom DeLonge (Vokal/Gitar), David Kennedy (Gitar), Adam "Atom" Willard (Drum) serta personil terbaru mereka Matt Wachter (Bass) yang masuk menjadi bagian Angels & Airwaves pada tahun 2007 setelah sebelumnya menjadi bassist untuk 30 Seconds to Mars. Tidak bisa dipungkiri Tom DeLonge masih memancarkan aura Blink 182 -yang "bubar jalan" pada tahun 2005-, sehingga yang datang malam itu mayoritas bertujuan untuk melihat sang frontman yang bernama asli Thomas Matthew DeLonge, Jr. tersebut.

Konser dimulai pukul 20.00 WIB, dibuka dengan lagu "Call to Arms" yang juga dipakai sebagai track pembuka album kedua mereka berjudul "I-Empire", saat intro "Call to Arms" dimainkan para penonton yang sudah memadati arena Tennis Indoor Senayan sejak pukul 18.00 WIB itu spontan berteriak histeris, satu persatu personil Angels & Airwaves keluar dari belakang panggung, dimulai dari Atom yang segera menduduki drumset-nya dan disusul oleh David Kennedy serta Matt Wachter yang langsung menempati spot masing-masing. Para penonton Jakarta berteriak histeris melihat idola mereka memasuki panggung, teriakan nama para personil Angels & Airwaves pun terdengar dari arah penonton, dan histeria penonton kembali pecah saat Tom DeLonge naik ke atas panggung.

Tom DeLonge mengenakan t-shirt biru dengan jeans abu-abu, terlihat santai, tapi aura bintangnya membuat semua penonton yang hadir akan setuju kalau dia memang frontman sejati. Sukses meledak di lagu pertama, tensi penonton kembali naik saat "It Hurts" dibawakan, tidak sampai disitu Angels & Airwaves memanaskan penonton di awal set mereka, usai "It Hurts" dibawakan "Love Like Rockets" serta "Everything's Magic" dibawakan berurutan, dengan pembawaan Tom DeLonge yang santai dan nyeleneh, euphoria penonton benar-benar dipermainkan.

Tom DeLonge tidak terlalu banyak berinteraksi dengan penonton, hanya sekedar kalimat pembuka untuk sebuah lagu atau ucapan terima kasih untuk Jakarta yang sudah menerima mereka dengan baik, tetapi semua itu tertutupi oleh aksinya yang maksimal dan terkadang kocak diatas panggung. Sepertinya Tom DeLonge tahu fans-nya rindu akan masa kejayaan Blink 182 atau Box Car Racer, dua band terdahulunya, dan kita semua tahu Blink 182 lah yang membuat Tom DeLonge besar. Untuk mengobati kerinduan para fans, mereka menyisipkan beberapa lagu dari Blink 182 dan Box Car Racer seperti "Reckless Abandon" dari Blink 182 serta "There Is" dari Box Car Racer yang dibawakan secara medley. Tom DeLonge menyanyikan kedua lagu itu sendirian, hanya dengan gitarnya, senyum puas serta kaget sempat terlihat dari raut wajah Tom DeLonge yang terlihat tidak percaya mendengar hampir seluruh penonton yang hadir hafal dan menyanyikan lirik kedua lagu tersebut dengan keras dan bersama-sama seperti sebuah karaoke massal.



Tom DeLonge


Usai bernostalgia, "Rite of Spring", "Secret Crowds", "The Gift" dan "Sirens" pun dimainkan, bahkan ditengah-tengah deretan lagu tersebut, mereka menyisipkan lagu "My First Punk Song" dari Box Car Racer, kembali membuat euphoria penonton meledak. Lagak Tom DeLonge malam itu mengingatkan kita akan performanya saat masih menjadi bagian Blink 182, kelakuan konyol seperti menjatuhkan Matt Wachter yang sedang memainkan bass-nya sampai menjatuhkan mic stand Matt Wachter berulang kali, just like the old times. Klimaks konser jatuh pada lagu "The Adventure" yang sukses membuat kurang lebih 5 ribu penonton yang hadir bernyanyi bersama dengan komando Tom DeLonge.



Matt Wachter


Angels & Airwaves turun panggung usai "The Adventure" dibawakan, tapi penonton yang hadir meminta lebih, seperti biasa encore terjadi setelah teriakan ajaib "we want more" dari penonton membahana di Tennis Indoor Senayan, satu persatu personil Angels & Airwaves kembali memasuki panggung, langsung membawakan "Heaven" yang diambil dari album "I-Empire" serta disambung dengan lagu "The War" yang diambil dari album pertama mereka "We Don't Need to Whisper". Konser benar-benar selesai usai "The War" dibawakan, para penonton terlihat puas, dan Angels & Airwaves pun terlihat puas akan respon penonton Jakarta malam itu.
It's official: With an introduction of "together again," Blink-182,confirmed that they are back in the Blink business at the Grammy Awards Sunday night (February 8) when they appeared onstage together for the first time in four years.


Emerging to sounds of their 1999 hit "What's My Age Again," bassist Mark Hoppus, drummer Travis Barker — wearing a sling on his injured left arm — and estranged guitarist Tom DeLonge walked out together, with Hoppus joking, "Isn't it great to see the Jonas Brothers and Stevie Wonder back together again?" after the unlikely pairing performed a medley of the Bros' "Burning Up" and Wonder's "Superstition." Barker added, "We used to play music together, and we decided we're going to play music together again," as DeLonge stood awkwardly to the side. Hoppus also yelled, "Blink-182 is back!"

The band's official Web site also confirmed the good news, with a banner that read simply, "Summer 2009." A message from the band explained, "Hi. We're Blink-182. This past week there've been a lot of questions about the current status of the band, and we wanted you to hear it straight from us. To put it simply, We're back. We mean, really back. Picking up where we left off and then some. In the studio writing and recording a new album. Preparing to tour the world yet again. Friendships reformed. 17 years deep in our legacy. Summer 2009. Thanks and get ready."

Hopes were high for the announcement when, on Thursday, it was revealed that the trio would be presenting an award at the Grammys. And they got even higher when Angels & Airwaves guitarist David Kennedy appeared to let slip in a Web chat that same day that Blink were going to record an album this year.

Will Lil Wayne grab all the gramophones? Is Katy Perry going to tell her girl rivals to kiss off? Can Coldplay march off with a win? MTV News is all over the 51st Annual Grammy Awards, so stay tuned for interviews, analysis and more before, during and after the big night.

Blink-182 speak on stage during the 51st Annual Grammy Award

Photo: Kevin Winter/ Getty Images

Stay Together From The Kids - Blink 182

It's hard to wake up, when the
Shades have been pulled shut
This house is haunted,
It's so pathetic,
It makes no sense at all
I'm ripe with things to say,
The words rot and fall away
A stupid poem could fix this home,
I'd read it every day
So here's your holiday,
Hope you enjoy it this time,
You gave it all away
It was mine, so
When you're dead and gone,
Will you remember this night,
Twenty years now lost,
It's not right

The anger hurts my ears,
Been running strong for seven years
Rather then fix the problem,
They never solve them,
It makes no sense at all
I see them everyday,
We get along so why can't they?
If this is what he wants,
And its what she wants,
Then why's there so much pain?

So here's your holiday,
Hope you enjoy it this time,
You gave it all away
It was mine,
So when you're dead and gone,
Will you remember this night,
Twenty years now lost,
It's not right

So here's your holiday,
Hope you enjoy it this time,
You gave it all away
It was mine,
So when you're dead and gone,
Will you remember this night
Twenty years now lost,
It's not right
It's not right
It's not right
It's not right

Adam's Song

I never thought I'd die alone
I laughed the loudest,
Who'd have known?
I traced the cord back to the wall
No wonder it was
Never plugged in at all
I took my time, I hurried up
The choice was mine,
I didn't think enough
I'm too depresed to go on,
You'll be sorry when I'm gone
I never conqured, rarely came
16 just held such better days
Days when I still felt alive
We couldn't wait to get outside
The world was watching
Hate to try
The tour was over we'd survived
I couldn't wait till I got home
To pass the time in
My room alone

I never thought I'd die alone
Another six months,
I'll be unknown
Give all my things to
All my friends
You'll never step foot
In my room again
You'll close it off, board it up
Remember the time that
I spilled the cup
Of apple juice in the hall
Please tell mom this
Is not her fault

I never conqured, rarely came
16 just held such better days
Days when I still felt alive
We couldn't wait to get outside
The world was watching
Hate to try
The tour was over we'd survived
I couldn't wait till I got home
To pass the time
In my room alone

I never conqured, rarely came
Tomorrow holds such better days
Days when I can still feel alive
When I can't wait to get outside
The world is watching
The time goes by
The tour is over I'd survived
I can't wait till I get home
To pass the time
In my room alone

Selasa, 30 Desember 2008

Kuil dan Patung Ramses II Ditemukan di Kairo


Source: Kompas.com Selasa, 16 September 2008 | 07:47 WIB
http://kompas.com/read/xml/2008/09/16/0747...emukan.di.kairo

Kuil dan Patung Ramses II Ditemukan di Kairo

Three Lions/Getty Images
Kepala patung raksasa Ramses II yang dipindahkan dari Kairo ke piramid dekat lokasi aslinya.


KAIRO, SENIN — Tim arkeolog Mesir menemukan sebuah kuil dan potongan patung raksasa sosok Firaun paling terkenal dalam sejarah Mesir, Ramses II. Seperti dilaporkan kantor berita Mesir, MENA, Senin (15/9), penemuan tersebut tak terduga karena terdapat di pusat ibu kota Kairo.

Kuil yang dibangun pada dinasti ke-19 Raja Ramses II ditemukan di daerah Ain Shams, bagian timur Kairo, Mesir. Tim arkeolog juga menemukan bagian patung Ramses II dan bongkah batuan berukuran besar yang dipakai untuk membangun kuil.

Ramses II menguasai Mesir selama 68 tahun pada 1304-1237 sebelum Masehi. Ia dikenal sebagai raja yang senang membangun patung dan monumen dirinya di sekeliling wilayah kekuasaannya.

Salah satunya patung Ramses II setinggi 11 meter seberat 100 ton dari bahan granit merah yang sempat menjadi landmark Kairo. Namun, patung tersebut telah dipindahkan dari kota yang berpolusi tinggi ke dekat piramid dekat lokasi penemuannya.

Selain itu, Ramses II juga menyiapkan proses mumifikasinya dengan sangat mewah. Mumi yang saat ini dipamerkan di Museum Nasional Kairo merupakan salah satu tujuan wisata paling menarik di Mesir.

WAH
Sumber : ABCNews

Misteri Ledakan Bintang Abad ke-16 Terpecahkan


NASA

Jejak supernova Tycho yang diamai dengan gelombang inframerah dan sinar-X dari teleskop Siptzer dan Chandra milik NASA serta teleskop di Observatorium Calar Alto Spanyol. Ini adalah sisa pernova atau ledakan bintang yang dilihat tahun 1572 oleh astronom Denmark, Tycho Brahe.


Kamis, 4 Desember 2008 | 21:31 WIB

NEW YORK, KAMIS — Kilatan cahaya terang di langit yang mengejutkan astronom Denmark, Tycho Brahe, lebih dari 400 tahun lalu bukanlah sesuatu yang aneh. Setidaknya setelah tim ilmuwan mengungkap rahasia di balik terjadinya peristiwa yang jarang terlihat kasat mata tersebut.

Sejauh ini, para ilmuwan yakin bahwa cahaya terang tersebut berasal dari ledakan bintang atau supernova. Namun, apa jenis supernova yang menyebabkannya masih menjadi teka-teki alam sampai kini.

Penelitian terakhir yang dimuat jurnal Nature menyimpulkan bahwa cahaya terang tersebut berasal dari ledakan bintang kembar jenis kerdil putih (white dwarf). Kesimpulan tersebut diperoleh setelah gabungan ilmuwan dari Jerman, Jepang, dan Belanda yang mengamati pantulan cahaya yang dihasilkan setelah bertahun-tahun.

Cerita mengenai peristiwa yang disebut supernova Tycho mulai menyebar pada 11 November 1572. Saat itu Brahe terkejut saat melihat cahaya terang di langit yang diduga sebagai bintang baru yang sangat terang di sekitar rasi bintang Cassiopeia. Namun, cahaya seterang Planet Venus tersebut ternyata hanya bertahan selama dua minggu dan hilang sepenuhnya setelah 16 bulan kemudian.

Karena belum ada teleskop saat itu, Brahe mencatatnya secara detail. Tidak seperti bulan atau planet, posisi obyek bercahaya tersebut tidak begerak relatif terhadap bintang lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa cahaya berada jauh di belakang.
Sesaat peristiwa tersebut menjadi pemandangan yang indah karena berada di tempat yang sama. Sejak peristiwa itu, Brahe berkomitmen untuk mempelajari bintang secara lebih intensif dan memulai tradisi astronomi modern.

Cahaya yang dihasilkan ledakan bintang tersebut memang sudah melewati Bumi jauh ratusan tahun lalu. Namun, debu dan gas yang dihasilkannya masih tercecer di luar angkasa sehingga peristiwa tersebut masih bisa dilacak. Penelitian terbaru juga dilakukan berdasarkan analisis terhadap pantulan gelombang yang masih dapat tercatat saat ini.

http://kompas.com/read/xml/2008/12/04/2131538/misteri.ledakan.bintang.abad.ke-16.terpecahkan.

Senin, 29 Desember 2008

IP di Internet 2010 Akan Habis !!!

http://kudoni.wordpress.com/2008/09/23/ip-di-internet-2010-akan-habis/




LONDON - Kian banyaknya pengguna internet di belahan bumi mendatangkan ancaman menipisnya persediaan alamat protokol internet (IP). ”Internet akan kehabisan alamat tahun 2010,” lontar ”bapak internet” Vint Cerf.


Pria yang ikut menciptakan sistem internet itu menyatakan bahwa situs web tidak memiliki cukup kode khusus yang memungkinkan komputer terhubung satu sama lain. Untuk menyelamatkan situasi, ilmuwan komputer terkemuka tersebut mengajak para pengguna menciptakan sistem baru.

Cerf mengatakan, ketika alamat protokol internet (IP) telah habis, jaringan internet terancam dan banyak komputer tidak akan bisa online. ”Kondisinya seperti internet kehabisan nomor telepon. Padahal, tanpa nomor baru, tidak akan ada pengguna baru,” jelasnya.

Ketika internet diciptakan pada 1977, terdapat 4,2 miliar alamat yang tersedia di sistem protokol internet versi 4 (IPv4). Setiap alamat di IPv4 memiliki serangkaian 32 nomor kembar. Seiring cepatnya perluasan broadband di seluruh dunia, diperkirakan alamat-alamat itu akan habis pada 2010.

Sebuah sistem baru dinamakan IPv6 (the Internet Protocol version 6) telah siap dan sudah digunakan di Jepang. Sistem itu digunakan untuk menghubungkan ribuan sensor gempa bumi melalui sistem komputer, yang mampu mengirimkan sinyal otomatis ke program televisi dan mengubah lampu lalu lintas menjadi merah. IPv6 berukuran sepanjang 128 bits dan menyediakan 340 triliun triliun triliun kemungkinan alamat.